12 Nov 2008

Visi Depok 21 - Membangun Karakter Bangsa

Membangun Karakter Bangsa Tanpa Miras.

Sepuluh remaja Bandung tewas secara mengenaskan karena kekurangan oksigen dan terinjak-terinjak pada konser musik underground di Gedung Asia Afrika Bandung, 9 Februari 2008 yang lalu. Mereka masih belia, berusia 15 hingga 20 tahun, dan masih duduk di bangku SMP atau SMA. Di dalam gedung panitia membagi-bagikan minuman keras kepada penonton. Remaja-remaja tanggung itu meminumnya sehingga banyak yang mabuk. Akibatnya terjadi kericuhan, yang menyebabkan 10 orang remaja tewas sia-sia.
Di tempat lain, sejumlah remaja terpaksa diamankan petugas Polres Kudus saat berlangsungnya pentas grup band Ungu di Alun-alun Simpang Tujuh Minggu malam (25/11). Pasalnya, mereka kedapatan membawa senjata tajam, minuman keras, dan terlibat perkelahian (www.kuduskab.go.id).

Permintaan miras di sejumlah kios/toko dan warung eceran di Sragen meningkat. Pembelinya rata-rata remaja berusia 17 - 22 tahun. Permintaan miras dari kalangan remaja cukup banyak, bahkan pada malam minggu, permintaan bisa meningkat dua kali lipat. Jenis minuman yang diperjualbelikan di toko meliputi topi miring dan vodka. Kedua jenis minuman dalam botol berbentuk gepeng sangat praktis disimpan di saku celana dan digemari para remaja. (Suara Merdeka, 13 januari 2005).

Minuman keras telah merasuki anak muda kita. Mereka, generasi yang akan mengisi negara ini, harus mati dan hancur masa depannya karena pengaruh minuman keras. Tidak mustahil ada skenario besar dari pihak asing yang ingin menjauhkan anak-anak muda bangsa ini dari nilai-nilai agama sehingga nantinya bangsa ini mudah dikuasai. Pihak asing tidak senang bangsa Indonesia ini taat pada agama sebab ketaatan pada agama dan nilai-nilai luhur ketimuran bisa menghambat industri kapitalisme mereka. Oleh karena itu, mereka berupaya memasukkan nilai-nilai asing ke dalam diri anak muda dengan membudayakan minuman keras, narkoba, dugem, narkoba, musik hingar bingar, dan pornografi.

Kita paham bahwa wajah bangsa ini 10-20 tahun yang akan datang dapat dilihat pada wajah para remaja dan pemudanya hari ini. Jika kita membentuk wajah para remaja dan pemuda kita hari ini dengan wajah kedisiplinan, ketekunan, jiwa kerja keras dan perjuangan, maka kita akan memetik buahnya 10-20 tahun yang akan datang. Bangsa ini akan menjadi bangsa besar dan maju. Bangsa yang beradab dan berbudaya. Bangsa yang akan berdiri sama tegak dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Namun, jika kita membentuk wajah remaja kita hari ini dengan wajah kemalasan, kebodohan, mental serba instan, mental aji mumpung, dan mental korupsi, maka kita sedang menanam bom waktu kehancuran bangsa ini. Bangsa ini akan semakin terpuruk, terbelakang, bodoh, mudah dipermainkan, dan tidak memiliki kewibaan dan harga diri.

Untuk membangkitkan kembali bangsa ini minimal ada dua hal yang harus dibentuk hari ini. Pertama, membangun karakter bangsa. Kepada seluruh remaja dan pemuda kita, kita harus bangun dan bangkitkan karakter dan jati diri mereka. Sesungguhnya, bukan usia suatu bangsa yang menentukan kebesaran dan kekerdilan bangsa tersebut. Bukan pula kekayaan alamnya. Bukan pula kecerdasan dan kepintaran orang-orangnya. Akan tetapi, karakter dan jati diri para pemuda dan pemimpin bangsa itulah yang menentukan kemajuan dan keterbelakangannya.

Membangun karakter bangsa tidak bisa dilakukan oleh satu atau dua pihak saja. Semua pihak harus berperan serta. Orang tua mempunyai peran membentuk karakter anak-anak dan remaja di lingkungan rumah. Sekolah dan guru berkewajiban mengasah karakter anak didik di lingkungan sekolahnya. Masyarakat dan organisasi non formal membentuk karakter remaja di lingkungan pergaulannya. Lembaga-lembaga swasta, badan usaha dan lainnya, memiliki peran untuk mempengaruhi cara berpikir dan bertingkah laku para remaja dan pemuda kita. Terakhir, pemerintah memegang peranan penting, akan dibawa ke arah mana pembentukan karakter dan jati diri bangsa ini. Oleh karena itu, seluruh komponen bangsa ini harus memperhatikan hal ini dan mengambil peran sesuai dengan kapasitas dan potensi dirinya untuk membentuk karakter dan jati diri bangsa ini.

Kedua, membangun sistem. Pemerintah sebagai pemegang otoritas penuh kekuasaan dan peraturan, harus menjadi garda terdepan dalam membangun sistem bagi semua urusan warganya. Sistem yang adil dan beradab. Sistem yang terbuka dan demokratis. Sistem yang memperhatikan kepentingan semua warga, tanpa pandang bulu. Sistem yang konsisten dan transparan, termasuk juga penegakannya. Mulai dari sistem pendidikan, sistem sosial & lingkungan, sistem ekonomi, sistem penegakan hukum sampai pada sistem pertahanan keamanan, yang mampu melindungi dan membentuk warga masyarakat menjadi manusia-manusia tangguh dan berkarakter.

Sebuah bangsa yang memiliki karakter yang kokoh, dibarengi dengan keberadaan sistem yang kuat, maka ia akan masa depan yang gemilang. Kita yakin kita mampu mewujudkan semua itu. Namun, ia harus diawali dari lingkup terkecil bangsa ini, kota kita. Mari kita mulai secara bertahap mewujudkan semua ini dari kota Depok ini. Kita mulai dari membangun karakter dan membangun sistem kota kita.