2 Sep 2009

Berkorban Itu Indah

Berkorban Itu Indah

Telah dua bulan musim hujan berlalu sehingga di mana-mana pepohonan nampak menghijau. Kelihatan seekor ulat di antara dedaun menghijau yang bergoyang-goyang diterpa angin.
¢Apa khabar daun hijau,¢ katanya.

Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang
¢Oh, kamu ulat. Badanmu kelihatan kurus dan kecil, mengapa?¢ tanya daun hijau.
¢Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bolehkah engkau membantuku sahabat?¢ kata ulat kecil.
¢Tentu.. tentu.. dekatlah kemari.¢ Daun hijau berfikir, ¢Jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau. Hanya sahaja aku akan kelihatan berlubang-lubang. Tapi tak apalah.¢
¢Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau.
Setelah makan dengan kenyang ulat berterimakasih kepada daun hijau yang telah merelakan bahagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlubang di sana-sini namun ia bahagia dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar.
Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ke tanah, disapu orang dan dibakar.

Moral:
Apa yang terlalu bererti di hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit sahaja bagi sesama? Nah… akhirnya semua yang ada akan ¢mati¢ bagi sesamanya yang tidak menutup mata ketika sesamanya dalam kesukaran.
Yang tidak membelakangi dan seolah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak meminta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri.
Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah, tetapi indah. Ketika berkorban diri kita sendiri menjadi seperti daun hijau yang berlobang namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita, kita akan tetap hijau, Tuhan akan tetap memberkati dan memelihara kita.
Bagi ¢daun hijau¢, berkorban merupakan sesuatu perkara yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya dapat tersenyum kerana pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya kerana menyedari bahawa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai ¢daun hijau¢. Suatu hari ia akan kering dan jatuh.

Demikianlah kehidupan kita. Hidup ini hanya sementara, kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik, kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan kerendahan hati.
Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Kita dapat berkorban dalam banyak perkara.
Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka,memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang dapat kita lakukan.
Yang mana yang sering kita lakukan? Menjadi ulat kecil yang menerima kebaikan orang atau menjadi ¢daun hijau¢ yang senang memberi.

sumber : anonimous

Pembuat Kendi dan Pengrajin Emas

Pembuat Kendi dan Pengrajin Emas

Bertahun-tahun yang lampau di salah sebuah kota , tinggal seorang pengrajin emas dan seorang pembuat kendi. Perajin emas itu seorang materialis dan pecinta harta. Oleh sebab itu, dia senantiasa berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan harta dan kekayaan. Semua orang tahu bahwa dia tidak mengindahkan kejujuran. Sebaliknya, pembuat kendi adalah seorang mukmin dan pekerja keras. Dia dicintai oleh masyarakat. Setiap orang yang memiliki problema akan datang meminta bantuannya. Si perajin emas berfikir, mengapa warga kota begitu menyintai pembuat kendi, padahal dia tidak memiliki harta benda. Menurutnya, cinta dan kasih sayang bisa diperoleh lewat tipu daya dan makar. Karena itu timbul rasa dengki si pengrajin emas terhadap pembuat kendi. Pada salah satu hari, sewaktu petugas kota mengejar pencuri di pasar, si pengrajin emas melihat bahwa saat itu adalah momen yang tepat untuk menuntaskan dendamnya terhadap pembuat kendi. Oleh sebab itu, dia menunjuk si pembuat kendi dan berbohong dengan mengatakan: Saya melihat pencuri masuk ke rumah lelaki ini. Petugas dengan segera memasuki rumah pembuat kendi dan ketika dia tidak menemukan tanda-tanda adanya pencuri, ia menyeret paksa pembuat kendi ke penguasa dan memintanya untuk menyerahkan si pencuri. Pembuat kendi bersumpah bahwa dia tidak mengetahui apa-apa. Tapi ada daya, ia tetap dijebloskan ke penjara. Selang beberapa hari kemudian, pencuri tersebut tertangkap dan sekaligus membuktikan bahwa pembuat kendi tidak bersalah. Diapun dibebaskan. Sebaliknya, pengrajin emas yang berbohong mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya. Setelah peristiwa itu, si pengrajin emas itu bukan hanya tidak menyesal atas tindakannya, tetapi malah semakin dibakar oleh api kedengkian terhadap pembuat kendi. Apalagi, dia menyaksikan bahwa si pembuat kendi semakin dicintai oleh masyarakat.

Dengki dan hasad sedemikian membakar jiwa dan hatinya sehingga dia mengambil keputusan yang berbahaya. Dia menyediakan racun dan memperalat seorang anak muda bodoh untuk meracun pembuat kendi dengan mengupahnya seratus keping emas. Hari yang ditetapkan pun tiba. Perajin emas menanti suara jerit tangis dari rumah pembuat kendi. Tetapi hal itu tidak terjadi. Sebaliknya pembuat kendi kelihatan sehat dan segar bugar seperti biasa.

Pengrajin emas merasa heran dan dengan segera dia mencari anak muda itu dan menyelidiki apa yang terjadi. Sadarlah dia bahwa bukan hanya si pembuat kendi itu tidak diracun, tetapi anak muda tersebut malah lari dari kota membawa seratus keping emas pemberiaannya. Ketika perajin emas ini mendengar berita itu, dia merasa sangat sedih. Begitu sedihnya sampai ia jatuh sakit. Tidak ada dokter yang bisa mengobatinya. Ya, karena memang tidak ada obat yang bisa menyembuhkan api dendam dan kedengkian. Lelaki pengrajin emas telah kehilangan segala-galanya dan dunia menjadi gelap baginya. Hal ini menyebabkan isteri dan anak-anaknya meninggalkannya. Berita kesendirian pengrajin emas yang sakit itu diketahui oleh tetangganya, si pembuat kendi yang baik hati. Dia berpikir, inilah waktunya untuk pergi mengunjungi pengrajin emas. Dia menyediakan makanan yang enak dan membawanya ke rumah perajin emas. Pengrajin emas, tidak dapat berkata apa-apa ketika melihat pembuat kendi. Pembuat kendi duduk di sisinya dan dengan lemah lembut menanyakan keadaan dirinya dan berkata: Aku datang karena memenuhi hakmu sebagai tetanggaku. Pengrajin emas menundukkan kepalanya karena malu. Pembuat kendi melanjutkan: Aku mengetahui segala apa yang berlaku pada masa lalu. Anak muda itu satu hari datang kepadaku dan memberitahu apa yang terjadi dan menyarankan supaya aku meninggalkan kota ini karena sudah tentu nyawa aku akan tidak selamat dari mu. Tetapi oleh karena aku berharap kepada rahmat dan karunia Ilahi, setiap hari aku berdoa untuk mu semoga dirimu dibebaskan dari rasa dengki dan hasad terhadapku. Kata-kata pembuat kendi menyebabkan pengrajin emas itu menangis. Pembuat kendi memegang tangan tetangganya dan berkata, “Sahabat ku, ketahuilah bahawa kedengkian laksana api yang membakar dan orang yang mula-mula dibakarnya adalah diri insan itu sendiri. Alangkah baiknya jika dalam masa yang pendek dan singkat di kehidupan dunia ini, kita saling kasih mengasihi sehingga kita meninggalkan nama yang baik. Tahukah engkau apakah rahasia kebaikanku di tengah masyarakat? Untuk mengetahui rahasia ini, aku ingin menyajikan sebuah kisah untuk mu. Pengrajin emas memasang telinganya untuk mendengar kisah tersebut dan dalam keadaan tersenyum yang tersungging di bibirnya, dengan penuh perhatian dia mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh pembuat kendi. Si pembuat kendi berkata; Pada suatu hari Imam Sajad as, berkata kepada salah seorang sahabatnya bernama Zuhri yang begitu sedih memikirkan segala yang muncul dari sifat hasad pada dirinya. Beliau berkata: “Wahai Zuhri, apakah salahnya jika engkau menganggap orang lain sama seperti saudara dan keluargamu sendiri, orang yang tua sebagai bapakmu, anak-anak sebagai anakmu dan orang yang sebayamu seperti saudaramu sendiri. Ketika dalam keadaan begini, bagaimana mungkin engkau berbuat zalim kepada orang lain? Janganlah engkau lupa pada hal ini bahwa orang lebih menyayangi siapa yang berbuat baik kepada orang lain. Jika metode yang begini engku teruskan dalam hidupmu, dunia akan menjadi tempat yang membahagiakanmu dan engkau akan mempunyai banyak kawan.

Kata-kata pembuat kendi itu sampai disini. Pengrajin emas berpikir jauh dan lahirlah rasa penyesalan di wajahnya. Dengan suara yang bergetar, dia meminta maaf atas segala yang terjadi di masa lalu. Kepada Tuhan dia berjanji bahwa selepas ini dia akan menggantikan rasa dengki yang memenuhi hatinya dengan kasih sayang dan persahabatan kepada orang lain.

Bangsa Ini Memerlukan Zhu

Bangsa Ini Memerlukan Zhu
Oleh: Asro Kamal Rokan (Republika Online)

Xiao Hongbo telah dihukum mati pekan lalu. Delapan orang pacarnya --yang dibiayai dalam kehidupan mewah-- mungkin hanya menangisi lelaki berusia 37 tahun. Tidak ada yang bisa membantunya.

Deputi manajer cabang Bank Konstruksi China, salah satu bank milik negara, di Dacheng, Provinsi Sichuan, itu dihukum mati karena korupsi. Xiao telah merugikan bank sebesar 4 juta yuan atau sekitar Rp 3,9 miliar sejak 1998 hingga 2001. Uang itu digunakan untuk membiayai kehidupan delapan pacarnya.

Xiao Hongbo satu di antara lebih dari empat ribu orang di Cina yang telah dihukum mati sejak 2001 karena terbukti melakukan kejahatan, termasuk korupsi. Angka empat ribu itu, menurut Amnesti Internasional (AI), jauh lebih kecil dari fakta sesungguhnya. AI mengutuk cara-cara Cina itu, yang mereka sebut sebagai suatu yang mengerikan.

Tapi, bagi Perdana Menteri Zhu Rongji inilah jalan menyelamatkan Cina dari kehancuran. Ketika dilantik menjadi perdana menteri pada 1998, Zhu dengan lantang mengatakan, ''Berikan kepada saya seratus peti mati, sembilan puluh sembilan untuk koruptor, satu untuk saya jika saya melakukan hal yang sama.''

Zhu tidak main-main. Cheng Kejie, pejabat tinggi Partai Komunis Cina, dihukum mati karena menerima suap lima juta dolar AS. Tidak ada tawar-menawar.
Permohonan banding wakil ketua Kongres Rakyat Nasional itu ditolak pengadilan. Bahkan istrinya, Li Ping, yang membantu suaminya meminta uang suap, dihukum penjara.

Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi, Hu Chang-ging, pun tak luput dari peti mati. Hu terbukti menerima suap berupa mobil dan permata senilai Rp 5 miliar. Ratusan bahkan mungkin ribuan peti mati telah terisi, tidak hanya oleh para pejabat korup, tapi juga pengusaha, bahkan wartawan.

Selama empat bulan pada 2003 lalu, 33.761 polisi dipecat. Mereka dipecat tidak hanya karena menerima suap, tapi juga berjudi, mabuk-mabukan, membawa senjata di luar tugas, dan kualitas di bawah standar.
Agaknya Zhu Rongji paham betul pepatah Cina: bunuhlah seekor ayam untuk menakuti seribu ekor kera.

Dan, sejak ayam-ayam dibunuh, kera-kera menjadi takut, kini pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 9 persen per tahun dengan nilai pendapatan domestik bruto sebesar 1.000 dolar AS. Cadangan devisa mereka sudah mencapai 300 miliar dolar AS.

Sukses Cina itu, menurut guru besar Universitas Peking, Prof Kong Yuanzhi, karena Zhu serius memberantas korupsi. Perang terhadap korupsi diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Zhu mengeluarkan dana besar untuk pendidikan manajemen, mengirim ribuan siswa belajar ke luar negeri, dan juga mengundang pakar bisnis berbicara di Cina.

Kini, lihatlah apa yang terjadi di Indonsia.

Pengangguran terus bertambah, anak-anak gadis dari desa terpaksa menjadi pelacur di kota, lulusan SMU menjadi pengamen, anak-anak SD yang malu tidak dapat membayar uang sekolah, bunuh diri. Ratusan ribu orang tumpah ke kota-kota karena di desa tidak ada harapan.
Ratusan ribu orang menjadi tenaga kerja di luar negeri, ditipu calo dan disiksa majikannya.

Mereka adalah korban. Koruptor menghisap hidup mereka, bertahun-tahun tanpa ada yang menolong. Koruptor mengambil hak mereka atas tanah, hak mereka atas air, hak mereka untuk sekolah, hak mereka untuk berdagang, hak mereka untuk bekerja, hak mereka untuk mendapatkan layanan, hak mereka untuk kesehatan. Apalagi hak yang tersisa untuk orang-orang miskin itu?

Pemerintah bukan penolong orang-orang miskin, terkadang mereka juga mengambil uang dari orang-orang miskin.

Bangsa ini memerlukan orang seperti Zhu Rongji, bukan pesolek.

Sebab, inilah keadaan utama Indonesia:
Jatuhkanlah tiga buah batu dari pesawat udara di wilayah Indonesia, maka yakinlah satu di antara batu itu akan mengenai kepala koruptor.




Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali
--------------------------------

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah
kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit.
Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda
dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana
semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku
mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera
menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di
depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
"Siapa yang mencuri uang itu?" beliau bertanya. Aku
terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak
mendengar siapa pun mengaku, jadi beliau mengatakan,
"Baiklah, kalau begitu, kalian
berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu
tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan
berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus
menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, beliau duduk di atas ranjang batu bata kami
dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah
sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di
masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu
pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami.
Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air
mata
setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba
mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku
dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis
lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah
lewat, tapi
insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku
tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia
melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku
berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat
yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas
propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap
rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya
memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu
baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya
yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana
mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah
lagi, telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan
tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau
mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?
Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya
akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu
kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk
meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku
bisa ke muka adikku yang
membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus
meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah
meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya,
telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke
universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian
lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia
menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik
kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas
tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan
mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan
menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada
punggungnya di
lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di
universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman
sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk
dusun menunggumu di luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan
keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya
kotor
tertutup debu semen dan pasir.
Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman
sekamarku kamu adalah adikku?"
Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku.
Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah
adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku
menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat
dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun!
Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku
bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus
menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya.
Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak
dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke
dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia
berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela
yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana
mana.
Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di
depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu
banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi
katanya, sambil tersenyum "Itu adalah adikmu yang pulang
awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat
luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca
jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya
yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku
mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut
lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak,
tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi
konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu.
Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."
Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku
memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke
wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak sekali
keluarga suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk
datang dan tinggal
bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka
mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan
tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga,
mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga
ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan
adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada
departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran
tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki
sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan
masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya.
Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu,
"Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan
pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini.
Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu
tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
keputusannya. "Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi
direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya
menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan
dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar
kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang
pendidikan juga karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam
tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya,
pembawa acara
perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu
hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,
"Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah
yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi
sekolah SD, ia
berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan
saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan
pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari
sarung tanganku.
Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya
memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami
tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca
yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang
sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya
masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik
kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam
hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah
adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini,
di depan kerumunan
perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku
seperti sungai.


Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times"

Mari Tadarus Al-Qur’an (dimuat di Monitor Depok 1 Sept 09)

Mari Tadarus Al-Qur’an

Salah satu keindahan dan keberkahan bulan suci Ramadhan adalah dimudahkannya kaum muslimin dan muslimat untuk mendekat dengan Al-Qur’an. Jikapada bulan-bulan lain tidak pernah menyentuh Al-Qur’an, di bulan Ramadhan Al-Qur’an sangat mudah dan ringan untuk diambil dan dibaca. Jika di bulan lain tidak pernah tergerak untuk membaca Al-Qur’an, di bulan Ramadhan tiba-tiba muncul motivasi yang kuat untuk membaca Al-Qur’an. Kesempatan ini harus diperhatikan dan dimanfaatkan seoptimal mungkin. Jangan sampai kemudahan yang Allah berikan kepada hambaNya di bulan yang sangat istimewa ini terlewat begitu saja, tanpa kita mendapatkan keberkahan dan kebaikan darinya.

Secara umum kondisi umat Islam saat ini nampak semakin rendah kadar interaksinya dengan Al-Qur’an. Kegairahan yang rendah dari kaum muslimin dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an sesungguhnya sudah disinyalir oleh Rasulullah SAW sejak dulu. Hal ini diabadikan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an Surat Al-Furqon ayat 30,”Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak dipedulikan.” Para ulama menafsirkan kalimat mahjuro (tidak dipedulikan) dalam ayat tersebut adalah suatu kondisi dimana umat Islam tidak lagi peduli pada ajaran Al-Qur’an. Imam Ibnu Taimiyah, seorang ulama besar pada abad ke 13 mengatakan kewajiban seorang muslim terhadap Al-Qur’an ada lima, yaitu membacanya, menghafalkannya, memahaminya, mengamalkannya, dan membelanya.

Beliau mengatakan, seorang muslim yang tidak mau membaca Al-Qur’an disebut sebagai mahjuro; seorang muslim yang membaca Al-Qur’an tapi tidak mau menghafalkan disebut sebagai mahjuro; seorang muslim yang membaca Al-Qur’an, menghafalkannya, tapi tidak mau belajar untuk memahaminya disebut juga mahjuro; seorang muslim yang mau membaca, menghafalkan dan memahaminya, tapi tidak mau mengamalkannya disebut juga sebagai mahjuro; seorang muslim yang membaca Al-Qur’an, menghafalkannya, memahaminya, dan mengamalkannya, tapi tidak mau melakukan pembelaan terhadap Al-Qur’an, juga disebut mahjuro. Jadi, interaksi seorang muslim dengan Al-Qur’an tidaklah cukup sebatas membaca, kemudian menghafal, memahami, dan mengamalkan, tapi juga sampai pada tahap mempertahankan dan membela Al-Qur’an ini.

Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah dan KitabNya, tentunya kita tidak ingin disebut sebagai mahjuro. Kita tentunya ingin menjadi hambaNya yang peduli, yang selalu bersemangat dan selalu mempunyai motivasi besar untuk membaca, menghafal, memahami, mengamalkan, dan membela Al-Qur’an. Oleh karena itu, momentum Ramadhan ini menjadi saat-saat yang sangat berharga untuk kembali kepada Al-Qur’an, kembali membaca Al-Qur’an, menghafalkannya, memahami kandungan isinya, mengamalkannya, dan membelanya.

Ramadhan ini merupakan saat yang tepat bagi kita untuk merenungkan kembali sejauh mana kita sudah berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an. Seberapa intens kita sudah membacanya. Sudah berapa jumlah ayat yang kita hafalkan. Sudah berapa ayat yang sudah kita pahami dengan baik kandungan isinya. Dari yang kita pahami, sudah berapa ayat yang kita sudah amalkan. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita untuk kembali menyelami Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup dan petunjuk hidup dalam kehidupan kita. Semoga.

Di bulan suci ini merupakan saat yang tepat untuk mengecek seberapa intens kita sudah membaca Al-Qur’an. Berapa ayat atau berapa halaman dalam sehari kita membaca Al-Qur’an selama ini. Apakah kita sudah membaca secara rutin atau masih sering ada hari-hari yang kosong tanpa aktifitas membaca Al-Qur’an sama sekali. Jika kita sudah melakukannya, maka bersyukurlah kepada Allah. Jika belum, maka kita tekadkan di bulan Ramadhan kali ini kita akan mulai melakukannya. Rasulullah SAW pada setiap bulan Ramadhan selalu membaca/tadarus Al-Qur’an. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhori dan Muslim, dari Abas Ra. ia berkata, “Dan adalah malaikat Jibril menemui beliau (Nabi SAW) pada setiap malam selama Ramadhan, lalu mengajaknya menderas (tadarus ) Al-Qur’an.”

Setelah tilawah Al-Qur’an dapat kita lakukan dengan baik, tahap berikutnya adalah menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Kita dapat mulai menghafal dari surat-surat pendek di juz 30, kemudian masuk ke juz 29 dan seterusnya. Di waktu-waktu lain, di samping membaca dan menghafal, kita juga perlu memahami arti dan makna dari ayat-ayat Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak akan dapat menjadi pedoman hidup jika kita tidak memahami makna kandungannya. Oleh karena itu, setelah

Mukmin sejati (dimuat di Monitor Depok Agustus 2009)

HIKMAH PUASA

Hikmah. Monitor Depok. Islam mewajibkan umatnya untuk menjalankan puasa di bulan suci Ramadhan. Dalam Islam, setiap perintah dan larangan pasti ada hikmah dan pelajaran yang dapat diambil. Demikian pula puasa. Paling tidak, melalui puasa ada tiga hikmah yang dapat diperoleh seorang muslim. Pertama, puasa Ramadhan menjadi bukti bagi seorang muslim bahwa dirinya adalah mukmin. Sebab, hanya manusia beriman (mukmin) yang dipanggil Allah untuk berpuasa. Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah 183, “"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. Selain bagi orang mukmin, perintah puasa ini tidak berlaku. Jadi, jika ada seseorang mengaku muslim atau mukmin tapi tidak mau menjalankan puasa Ramadhan, maka predikat mukminnya dapat dipertanyakan. Yang memprihatinkan, predikat mukmin ini seringkali dimaknai dengan sangat dangkal dan merupakan klaim sepihak. Ketika seseorang sudah menyatakan dirinya muslim, dia sering menganggap dirinya sudah mukmin. Padahal, tidak sama antara muslim dan mukmin. Seseorang menjadi muslim pada saat dirinya secara formal mengucapkan dua kalimat syahadat, dan menganut agama islam. Akan tetapi, seseorang dikatakan mukmin, jika ia sudah berada pada tahap dirinya dan hidupnya siap secara fisik dan mental untuk diatur, diperintah dan dilarang oleh Allah swt, dalam seluruh aspek kehidupannya. Melalui puasa Ramadhan akan nampak dengan jelas tipe orang-orang mukmin sejati dan orang-orang muslim biasa.

Kedua, pelaksanaan puasa Ramadhan menjadi bukti apakah seorang mukmin siap untuk memenuhi panggilan Allah atau tidak. Puasa Ramadhan menjadi sarana pembuktian kualitas keimanan seseorang. Jika ia mukmin sejati, maka ia akan melaksanakan puasa dalam rangka memenuhi perintah Allah, bukan karena yang lain. Hal ini penting untuk dicermati. Betapa banyak orang melakukan puasa karena teman-teman kantornya juga berpuasa, karena anak dan istrinya berpuasa, atau karena tetangganya berpuasa. Jika itu yang terjadi, pada hakekatnya, ia tidak sedang menjalankan puasa karena Allah. Pada tipe orang yang seperti ini akan nampak ketidak-konsistenan dalam menjalankan perintah Allah. Misalnya, ia berpuasa tapi tidak sholat. Ia berpuasa tapi tetap berjudi. Ia berpuasa tapi tetap korupsi. Ia berpuasa tapi senang menyakiti hati orang lain. Ia berpuasa tapi senang membuat resah masyarakat. Ia berpuasa tapi bahagia melihat orang lain susah. Manusia model seperti ini sebenarnya tidak siap berpuasa untuk memenuhi perintah Allah. Tidak ada yang diperoleh orang seperti ini kecuali hanya lapar dan haus saja. Sebagaimana yang disinyalir oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak memperoleh apa-apa selain lapar dan haus saja”.

Ketiga, puasa mendidik seorang mukmin untuk peduli terhadap sesama. Seorang mukmin yang kaya pada saat berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga. Kondisi lapar dan dahaga ini pada umumnya hanya dialami oleh orang-orang miskin. Puasa Ramadhan merupakan sarana untuk meminimalkan jarak antara orang yang kaya dan orang yang miskin. Selain merasakan kondisi lapar dan haus, di akhir Ramadhan orang kaya juga diwajibkan membersihkan hartanya melalui zakat. Tujuannya, selain mencari keridoan Allah, zakat juga dimaksudkan untuk meringankan beban para fakir miskin. Islam sanat mendorong masyarakat yang kaya untuk bersikap dermawan dan selalu memperhatikan dan membantu yang miskin. Sebaliknya, masyarakat miskin diharapkan agar menjadi warga yang sabar dan selalu mendoakan para pimpinannya.

Seorang mukmin yang menjalankan puasa Ramadhan dengan cermat dan penuh perhitungan akan meraih tiga hikmah puasa di atas, untuk menegaskan jati dirinya sebagai mukmin sejati, dan untuk menunjukkan kepada Allah kepeduliannya kepada sesama. Jika setiap warga Depok yang mukmin dapat menjalankan puasa Ramadhan dengan sebaik-baiknya, insya Allah akan terwujud keharmonisan dan ketentraman diantara warga kota ini, di bawah keridhoan Allah swt. Allahu a’lam.

25 Mar 2009

Successful people think differently

"Successful people think differently than unsuccessful people"
Ungkapan ini berusaha menjelaskan bahwa perbedaan utama antara orang suksesdan orang gagal ada pada cara berpikirnya. Mereka yang sukses adalah merekayang selalu menggunakan kekuatan berpikir untuk terus memperbaiki hidupnyasehingga lebih baik.
Orang-orang yang sukses ini adalah mereka yang memiliki tipe berpikirpositif. Tipe berpikir orang-orang sukses ini adalah:
1.
Big picture thinking bukan small thinkingCara berpikir ini menjadikan mereka terus belajar, banyak mendengar danterfokus sehingga cakrawala mereka menjadi luas. 2.
Focused thinking bukan scattered thinkingSehingga dapat menghemat waktu dan energi, loncatan-locatan besar dapatmereka raih. 3.
Creative thinking bukan restrictive thinkingProses berpikir kreatif ini meliputi: think-collect-create-correct-connect. 4.
Realistic thinking bukan fantasy thinkingMemungkinkan mereka meminimalkan risiko, ada target & plan, security,sebagai Katalis dan memiliki Kredibilitas. 5.
Strategic thinking bukan random thinkingSehingga simplifies, customize, antisipatif, reduce error and influenceother dapat dilakukan. 6.
Possibility thinking bukan limited thinkingMereka dapat berpikir bebas dan menemukan solusi bagi situasi yang dihadapi.
7.
Reflective thinking bukan impulsive thinkingMemungkinkan mereka memiliki integritas, clarify big picture, confidentdecision making. 8.
Innovative thinking bukan popular thinkingMenghindari cara berpikir yang awam untuk meraih sesuatu yang lebih baik. 9.
Shared thinking bukan solo thinkingBerbagi pemikiran dengan orang lain untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
10.
Unselfish thinking bukan selfish thinkingMemungkinkan mereka berkolaborasi dengan pemikian orang lain. 11.
Bottom line thinking bukan wishful thinkingBerfokus pada hasil sehingga dapat meraih hasil berdasarkan potensipemikiran yang dimiliki.
SUMBER: THINKING FOR A CHANCEPENGARANG: JOHN C. MAXWELLPENERBIT: WARNER BUSINESS BOOKS (2003)