24 Des 2011

Tetap Saling Mengasihi


Sudah hampir tengah malam. Alun-alun kota mulai sepi. Sepasang suami istri
setengah baya itu mengemasi dagangannya. Sang istri membereskan piring,
gelas dan perabot lain. Sedangkan si suami memasukkannya dalam gerobak.
Sesaat mereka menghitung berapa laba yang masuk. Siapa pun tahu, penghasilan
tak selalu datang seperti yang diharapkan. Terkadang hujan turun, terkadang
petugas ketertiban menghalau, atau terkadang semuanya begitu menggembirakan.
Manis dan asam memang bumbu penyedap sehari-hari. Yang pasti, esok,
kehidupan sekali lagi harus dijalani.

Mempunyai tekad keras serta berusaha tanpa menutupi muka seringkali tak
cukup. Kita perlu sebuah kekuatan batin; yaitu, kemampuan untuk menerima
segala sesuatu yang terjadi. Orang bilang, ini adalah sebuah keberserahan
diri, sebuah tawakal, sebuah kepasrahan. Sepasang suami istri itu berjalan
bergegas. Yang laki mendorong gerobak, yang perempuan terkantuk-kantuk duduk
di atasnya. Keduanya berlalu menembus malam. Hidup memang bukan untuk
dijalani sendiri. Tapi bersama teman, sahabat atau kekasih, hidup adalah
untuk saling kuat-menguatkan, topang-menopang, serta kasih mengasihi.

Tidak ada komentar: