24 Des 2011

Tak perlu plakat nama


Andaikan anda adalah seorang pemimpin ekspedisi yang mengemban misi
menemukan benua baru. Anda memiliki kapal terkuat, kelasi-kelasi terbaik,
dan semangat luhur demi kehidupan umat manusia yang lebih mulia.
Menjelajahlah anda menembus ombak, melintasi badai dan memecah pantai.
Berbulan-bulan anda habiskan untuk mengintai apa yang ada di balik
cakrawala, serta meyakinkan semua orang bahwa misi ini pasti berhasil.
Akhirnya, ketika semua kelelahan, keputus-asaan, dan kebimbangan memuncak,
seorang kelasi berteriak, "Daratan!" Ya, ia melihat benua baru yang
diimpi-impikan itu. Anda telah menemukan tanah harapan itu. Pertanyaannya:
dengan nama siapakah akan anda namai benua itu? Apakah nama anda sendiri?
Toh, sebagai pemimpin, anda berhak menyandang kehormatan itu. Atau, nama
kelasi yang melihat benua itu pertama kali?

Orang-orang besar tak butuh namanya ditorehkan di plakat mana pun. Mereka
tahu, kebesaran adalah jiwa yang bebas. Nama mungkin segera menjadi fosil.
Sedangkan kebesaran jiwa akan hidup dan menjadi inspirasi bagi siapa pun
yang mendambakannya. Orang-orang berjiwa besar menghargai, tanpa merasa
harus dihargai.

Tidak ada komentar: