23 Okt 2016

Memimpin di Era Milenial Digital

Memimpin di Era Milenial Digital

Oleh: Ridwan Kamil*
(Arsitek, Wali Kota Bandung, Jawa Barat)

"Tiap jaman ada pemimpinnya dan tiap pemimpin akan ada jamannya."

Begitulah kira-kira kata pepatah. Ada jamannya memimpin di era penjajahan ala Sukarno, memimpin di era transisi ala Mahathir, memimpin di era euforia demokrasi ala Gus Dur, dan memimpin di era milenial digital ala Obama.

Tiap jaman punya cara dan ekspektasi. Dahulu masyarakat butuh pemimpin dengan imaji panglima perang nan gagah memimpin di depan. Hari ini masyarakat mengharapkan pemimpin yang berbaur bergaya rakyat kebanyakan. Tidak gaptek dan mampu hadir memimpin di tengah.

Sejak dulu nilai dasar seorang pemimpin tidaklah berubah. Ia diharapkan berintegritas, visioner, berani, pengambil resiko, pemberi solusi, dan lainnya.

Namun, hari ini yang dicari adalah nilai tambah. Seberapa relevan gaya dan cara memimpin di jaman yang serba transparan, serba cepat, serba interaktif. Di jaman milenial digital ini, pujian dan nyinyiran kepada pemimpin saling bersahutan dalam hitungan detik.

Itulah tantangan memimpin di era milenial. Memimpin di hari ini harus ekstra sabar dan jangan geeran. Jika dipuji jangan terbang dan jika dicaci jangan tumbang.

Tiga tahun memimpin kota Bandung sebagai wali kota, saya menemukan bahwa kepemimpinan yang efektif dan relevan di tingkat kota adalah dengan filosofi "Ing Madya Mangun Karso". Memimpin dari tengah.

Jika posisi pemimpin di tengah, ia bisa mendorong pasukan agar lari atau melompat ke depan. Juga sekaligus menyeret pasukan yang lambat tertinggal di belakang.

Artinya hari ini, jika progres ingin hadir cepat, seorang wali kota harus banyak berada di lapangan, tidak melulu duduk manis di belakang meja.

Sidak urusan KTP di kecamatan, bertangan kotor ikut membersihkan jalanan, menertibkan PKL liar, mengecek proyek taman dan bangunan dan lainnya.

Dengan cara itu sistem akan lebih cepat membaik, karena pemimpin dipersepsi selalu berada di tengah pasukan. Pasukan merasa selalu diawasi. Pasukan termotivasi.

Itulah kenapa saya banyak di lapangan. Salah satunya dengan bersepeda. Dengan cara ini di perjalanan bisa menemukan langsung problem lapangan. Bisa bertegur sapa dengan warga.

Itulah kenapa saya ikut Gerakan Pungut Sampah, memotivasi para pelajar sekolah tiap Senin, Rabu, Jumat.

Itulah kenapa saya turun melatih birokrasi tentang pentingnya media sosial untuk berkomunikasi interaktif dan merespon cepat keluhan publik.

Filosofi "Ing Madya Mangun Karso" ini di Bandung, alhamdulillah berhasil mengakselerasi perubahan. Setelah 3 tahun, pelayanan publik dari rapor merah sudah menjadi hijau.

Akuntabilitas kinerja birokrasi dari peringkat ratusan melompat ke peringkat 1 nasional. Adipura hadir lagi setelah 17 tahun absen. Smartcity sudah ranking 1. Indeks kebahagiaan warga naik tinggi ke skor 71.

Memimpin di tengah berarti pemimpin terasa hadir lahir batin dalam sistem. Memimpin hari ini harus bisa menjadi sopir sekaligus montir.

Wali kota, bupati, gubernur, dan presiden hari ini dipilih langsung oleh rakyat. Artinya secara emosional, terjadi hubungan tanggung jawab yang langsung dan hubungan batin yang kuat.

Rakyat di era milenial, dengan keseharian internet dan media sosial, bisa mengawasi dan mengomentari langsung semua jejak langkah harian para pemimpinnya. Sebuah interaksi e-demokrasi.

Demokrasi langsung Indonesia dengan one man one vote ini memberi banyak dinamika. Siapa pun hari ini bisa terpilih menjadi pemimpin selama mampu memikat hati para pemilih.

Sisi lainnya, ternyata pemimpin tidak hanya dipilih karena rasionalitas rekam jejaknya. Ada juga pemimpin terpilih karena hal-hal emosional seperti karena penampilannya, karena agamanya, kesukuannya, atau karena bagi-bagi duitnya.

Namun di sisi lain, demokrasi langsung ini berbahaya jika berada di masyarakat yang tidak siap. Masyarakat secara emosional terkadang memaksa pemimpin untuk mengikuti maunya, walau bertentangan dengan hukum formal.

Di sinilah tantangan kepemimpinan hari ini. Karenanya demokrasi terdidik menjadi penting agar tidak jatuh pada tirani populisme.

Karenanya, pemimpin juga harus berani melawan arus jika keputusan publiknya yang sudah memenuhi rasa etika keadilan dan hukum masih juga diprotes mayoritas publik yang emosional.

Contoh paling sering adalah kasus-kasus penertiban kampung liar ilegal yang seringkali ditolak warga, padahal sudah diberi ruang dialog, pengertian, dan diberikan hunian pengganti.

Dalam demokrasi hari ini , banyak warga yang menginginkan perubahan namun tidak mau ikut proses pahitnya.

Ingin maju seperti Singapura namun tidak mau ikut dalam perombakan infrastrukturnya. Ingin hebat seperti Jepang, namun tidak mau ikut dalam revolusi mentalnya. Padahal untuk hidup sehat terkadang harus makan obat pahit.

Karenanya pemimpin yang kalah determinasi akan selalu terjebak dalam populisme mayoritas. Karena sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpin yang adil dan berani.

Pemimpin hari ini diharapkan memiliki kedekatan emosional dengan rakyat. Untuk budaya timur yang menghargai silaturahim, kehadiran emosional pemimpin sangatlah diapresiasi.

Namun kedekatan di era milenial tidaklah harus secara fisikal namun bisa secara digital. Jauh tapi dekat.

Secara fisikal, terinspirasi teladan Umar bin Khatab, di Bandung dibangun tradisi, pemimpin dari wali kota sampai camat lurah untuk rutin bersilaturahmi mingguan.

Setiap minggu kami membawa makan malam untuk keluarga miskin kota. Camat dan lurah diwajibkan salat Jumat di tiap masjid berbeda dan malam minggu menonton layar tancep bersama warga.

Kami juga rutin menjadi pembina upacara tiap Senin pagi di sekolah-sekolah, membentengi moral para pelajar dengan nasehat dan tatap muka.

Di era milenial ini, warga di Bandung bisa melapor, mengeluh, dan memberi nilai rapor kinerja birokrasi melalui telepon genggamnya.

Hari ini wali kota, camat, dan lurah di Kota Bandung memiliki akun media sosial untuk menjawab pertanyaan warga, mem-posting agenda kerja, merespon keluhan harian, dan mengedukasi warga.

Setiap hari minimal ada 200-an berita harian ter-posting di semua akun digital unit kerja pemerintah Kota Bandung. Ujung dari semua ini adalah lahirnya aspek termahal dalam politik yaitu trust atau rasa percaya dari warga kepada pemerintah.

Di era milenial ini, media sosial adalah alun-alun publik digital. Caci-maki dan puja-puji datang silih berganti dalam hitungan detik.

Di Bandung, masyarakat membuat forum Facebook "Ridwan Kamil Watch" (RKW), isinya adalah kritikan dan masukan, namun tidak sedikit caci-maki. Susah dibedakan mana komen orisinil mana pesanan. Semua serba mungkin.

Karenanya pemimpin era milenial harus paham bahwa konstituennya hari ini rata-rata 'digital native' alias serba digital.

Para pemimpin jadul gagap teknologi yang merupakan 'digitial migrant' harus cepat beradaptasi. Siapa yang masih tertatih dengan dunia teknologi dan komunikasi menjadi kurang relevan dan akan ditinggal konstituen.

Politik di era milenial juga sarat dengan ekstrimitas. Media sosial juga sering digunakan untuk menyerang lawan politik dengan kasar. Menista pemimpin dengan bersembunyi di akun anonim adalah hal lazim.

Siap-siap disuruh mirip Erdogan. Siap-siap diadukonteskan antar-sesama pemimpin, seolah kompetisi putri kecantikan. Siap-siap dimaki dengan kutipan judul berita online. Bahkan hari ini lahir istilah buzzer politik sebagai akun promosi politik. Ada yang orisinil, ada yang berbayar.

Jika hanya mempromosikan visi dan rekam jejak jagoannya tidaklah masalah. Namun hari ini, akun buzzer politik bisa berpola negatif. Tugasnya secara profesional dan konsisten merendahkan dan menistakan lawan politik.

Saking rutin dan ekstrimnya ada yang menyebut sebagai teroris sosmed. Sebuah dampak negatif era digital yang harus dilawan.

Namun jika menguasai komunikasi politik via media sosial, pemimpin hari ini diuntungkan dengan peluang kesetaraan informasi.

Berita buruk dari media umum bisa dijawab dengan postingan tandingan. Fitnah satu arah bisa diklarifikasi dengan postingan bantahan. Teroris sosmed bisa didebat langsung.

Dengan pola serba cepat dan transparan ini, pemimpin era milenial harus bersiap dengan resiko persepsi. Kinerja terberitakan disebut pencitraan. Tidak terberitakan disebut tidak ada kinerja.

Namun kepemimpinan yang disukai hari ini tetaplah kepemimpinan yang menyentuh hati rakyat.

Kepemimpinan yang memotivasi bukan memaki. Kepemimpinan yang menggerakkan bukan memerintahkan. Kepemimpinan yang merangkul bukan memukul. Kepemimpinan yang turun tangan bukan tunjuk tangan.

Kepemimpinan yang terbaik adalah kepemimpinan dengan keteladanan. The best leadership is leadership by example.

Setiap kita adalah pemimpin. Ada yang hanya memimpin dirinya sendiri. Ada yang memimpin keluarga dan ada yang berkesempatan memimpin masyarakat.

Secara sederhana, tugas pemimpin masyarakat hanyalah dua: dengan ideologi menggerakkan masyarakat dan dengan inovasi menghadirkan perubahan.

Mari menjadi pemimpin yang tidak pernah lelah untuk mencintai Indonesia. Mari jadi pemimpin yang relevan untuk jamannya.*

*Sumber: http://regional.kompas.com/read/2016/10/14/13000091/memimpin.di.era.milenial.digital

Inspirasi dari warung nasi

Dalam rangka perjalanan untuk pekerjaan ke Solo, suatu hari saya mampir makan di warung soto di Solo.

Habis bubaran shalat jum'at saya mampir ke warung soto itu, karena sangat ramai dikunjungi pelanggannya. Saya pikir soto ini pasti enak karena pengunjungnya sampai ke teras warung...
Suasananya rada aneh, ketika saya lihat sekeliling meja, banyak sekali abang-abang becak yang makan di sana.

"Hemmm.. Pantesan rame, sotonya memang benar-benar enak!"

Ketika selesai makan dan mau membayar, Bu Amir pemilik warung soto itu melarang saya mengeluarkan uang.
"Tidak usah bayar Dik, terima kasih atas kunjungannya.".. ..
Dengan penuh rasa heran saya bertanya alasannya kenapa gak mau dibayar?

"Ini hari Jumat Dik, di sini tiap hari Jumat gratis!"
Masya Allah, terjawab sudah kenapa sebagian besar yang makan di warung ini tukang becak.

Setengah bingung saya mencoba mendekat ke tempat Bu Amir duduk.
"Ibu, apa gak rugi jual soto seharian gak dapat uang?", tanya saya setengah menyelidik.
"Dik, dari hari Sabtu sampai hari Kamis kan alhamdulillah kami dikasih rejeki,
dikasih untung sama Allah!!!

Kalau kami bersyukur dengan cara menggratiskan satu hari, untung kami masih sangat banyak untuk ukuran kami.

Kalau mau jujur seharusnya kami memberikan hak kepada Allah minimal 30% !
Coba adik pikir, siapa yang menggerakkan hati pelanggan-pelanggan kami untuk datang kemari ?

"Kalau kami harus membayar salesman, berapa uang yang harus kami bayar?"

"Semoga dengan 1/7 bagian ini Allah ridho. Sebagian besar dari hasil usaha ini kami gunakan untuk membiayai 4 anak kami. Mereka kuliah semua Dik. Satu di kedokteran UGM, satu di Teknik Sipil ITB, yang 2 lagi di UNS sini. Kalau bukan karena pertolongan Allah, mana bisa usaha kami yang sekecil ini membiayai kuliah 4 orang!"

Bu Amir menjelaskan panjang lebar.

Jelegeeer.... !!! Saya seperti disambar petir.
Warung soto sekecil ini bisa membiayai anaknya 4 kuliah di Universitas Negeri semua! Bahkan malah masih bisa memberi makan kepada tukang-tukang becak dan semua orang yang berkunjung ke warungnya setiap HARI JUMAT, GRATIS lagi !!!

Saya gak kehilangan akal, untuk membayar rasa kagum dan rasa bersalah makan soto gratis, saya masuk Mall.
Saya membeli dompet cantik buat hadiah Bu Amir.
Saya pikir, "Masa Bu Amir gak mau dikasih dompet secantik ini?"
Dalam waktu tidak sampai satu jam saya sudah kembali ke warungnya.

"Lho, kok balik lagi, ada yang ketinggalan Dik?", sapa Bu Amir heran.

"Mohon maaf Bu, ini hadiah dari saya tolong diterima. Anggap saja sebagai kenang-kenangan dari saya buat ibu yang telah memberi pelajaran hidup yang sangat berarti buat saya."

Dengan senyum tulus dan bicaranya halus Bu Amir menolak:
"Dik, terimakasih hadiahnya. Maaf, bukan ibu menolak. Ibu cukup pake dompet ini saja, kenang-kenangan dari suami ibu ketika beliau masih ada. Awet banget, tuh sampe sekarang masih bagus."

Bu Amir menepuk bahu saya.
"Bawa saja pulang dan hadiahkan buat ibumu. Percayalah, ibumu pasti senang dapat oleh-oleh dari Solo. Adik mampir di warung Ibu saja sudah merupakan sebuah kebahagiaan yang tidak ternilai. Ibu senang, benar-benar senang sudah bisa ngobrol sama adik."
Begitu kata Bu Amir sambil tersenyum.

Saya kehilangan akal dan hanya bisa pamit sambil menundukkan kepala....

Silahkan coba sotonya di lokasi : Yosodipuro dekat museum Pers Solo

Jika beli soto di situ selain hari jum'at, kembaliannya jangan diterima. Ketika membayar dan diberi kembaliannya, katakanlah "nderek titip kagem sedekah Jumat bu".
Beliau akan berterima kasih & mendoakan kita nggak habis2nya.
Aamiin... aamiin... aamiin...
Beliau mendoakan kita & Allah ridho akan doanya.

#kiriman teman

30 Jun 2016

Nilai MK Aplikasi Bisnis TI Kelas 4KA25

1 18112296 88
2 10112726 82
3 11112101 45
4 11112652 87
5 11112892 65
6 12112001 61
7 18112053 85
8 12112372 82
9 12112659 89
10 12112734 73
11 12112822 69
12 13112215 0
14 13112266 81
15 13112384 78
16 13112430 63
17 13112560 3
18 13112697 50
19 14112856 75
20 15112252 0
21 15112343 77
22 18112078 65
23 15112587 72
24 15112641 0
25 15112655 85
26 15112656 3
27 15112737 93
28 15112869 59
29 16112279 45
30 16112387 0
31 16112660 0
32 17112109 93
33 17112123 88
34 18112338 3
35 17112665 0
36 17112696 88
37 17112812 0
38 14112802 76
39 12111487 56
40 10111419 39
41 13112771 66
42 10111544 17
43 12111724 36

Nilai MK Aplikasi Bisnis TI Kelas 4KA12


1 10112483 36
2 10112796 73
3 10112816 89
4 10112893 0
5 10112975 91
6 11112152 0
7 11112459 64
8 11112472 89
9 12112216 74
10 12112504 73
11 12112656 85
12 12112838 51
13 12112898 89
14 13112457 69
15 13112494 93
16 13112609 0
17 13112806 90
18 13112814 80
19 13112953 75
20 14112556 41
21 14112702 0
22 18112150 45
23 15112050 51
24 15112061 87
25 15112258 85
26 15112367 0
27 15112608 85
28 15112704 90
29 15112755 68
30 15112796 0
31 15112884 0
32 16112071 94
33 16112231 0
34 16112290 81
35 16112303 3
36 16112499 91
37 16112509 90
38 16112633 38
39 16112727 96
40 16112831 0
41 16112881 94
42 17112013 81
43 18112157 83
44 17112532 94
45 17112635 39
46 17112685 93
47 17112905 0

Nilai MK Pemrograman 4G Kelas 3KA25


1 10113238 99
2 10113270 0
3 19113807 0
4 10113510 89
5 10113550 0
6 10113557 89
7 10113644 96
8 11113392 100
9 19113923 0
10 11113429 42
11 11113601 67
12 12113959 70
13 12113991 59
14 13113252 100
15 13113268 49
16 13113357 100
17 13113622 24
18 13113789 0
19 13113874 0
20 14113712 85
21 15113383 86
22 15113818 0
23 16113142 99
24 16113605 0
25 17113056 100
26 17113181 28
27 17113609 85
28 17113928 92
29 17113943 0
30 18113197 75
31 19113804 83
32 19113916 0
33 18113598 80
34 19113282 96
35 17113967 48
36 15113717 24
37 18114890 3
38 16111629 19
39 16111592 28
40 14111688 17
41 12111744 59
42 11111212 48
43 12111724 33
44 14110176 32
45 15111741 25
46 11111534 4
47 10111707 21
48 13111376 32

Nilai MK Pemrograman 4G Kelas 3KA24


1 19113921 60
2 10113608 88
3 10113802 0
4 10113882 0
5 10113962 96
6 12113654 98
7 19113857 0
8 13113600 52
9 13113860 91
10 14113315 0
11 14113892 62
12 15113228 87
13 15113602 86
14 15113714 92
15 19113862 45
16 15113889 0
17 15113955 95
18 16113058 0
19 16113424 100
20 16113866 0
21 16113866 38
22 16113898 70
23 17113634 0
24 17113654 94
25 17113758 93
26 18113119 100
27 18113515 86
28 18113830 0
29 19113157 0
30 19113245 0
31 19113393 94
32 18114887 92
33 19111026 62
34 17111017 21
35 17111010 4
36 12111487 25
37 14111277 4

Nilai MK Pemrograman 4G Kelas 3KA09


1 10113114 65
2 10113160 0
3 10113362 80
4 10113427 77
5 10113541 77
6 10113642 0
7 10113783 80
8 10113843 80
9 10113869 59
10 11113561 77
11 11113957 55
12 12113107 78
13 12113165 0
14 12113268 0
15 12113652 0
16 12113679 11
17 13113303 84
18 13113340 53
19 13113341 50
20 13113528 80
21 13113887 78
22 19113721 82
23 14113084 81
24 14113318 81
25 19113745 0
26 14113941 59
27 15113045 0
28 15113482 81
29 15113570 81
30 15113619 84
31 15113780 100
32 15113992 87
33 16113061 0
34 16113109 71
35 16113627 78
36 17113035 78
37 17113319 87
38 17113533 100
39 17113968 47
40 18113286 0
41 18113797 82
42 18113952 90
43 18113973 74
44 19113000 72
45 19113228 84
46 19113296 73
47 19113495 45
48 19113579 77
49 19113623 79