29 Jan 2020

Nilai SBP 3KA30 - 2020

NPM Nilai Akhir
10117070 -
10117709 63
16117755 75
10117836 78
11117129 60
11117536 65
11117667 65
11117781 73
17117282 65
12117073 55
12117315 60
12117616 70
12117720 75
12117814 -
12117999 60
13117501 78
13117658 73
13117993 58
14117063 70
14117238 -
14117822 75
15117087 75
15117124 -
15117233 60
15117590 80
15117667 75
16117091 75
16117283 63
16117344 75

Nilai SBP 3KA20 - 2020

NPM Nilai Akhir
10117058 10
16117695 0
10117396 0
10117636 77
10117718 43
1B118067 14
1B119879 74
1B118789 12
1B119028 64
16117761 9
1B118715 24
17117369 15
17117246 83
1B119022 47
1B119019 18
12115808 14
1B118068 15
1B119018 18
1B119812 39
1B118074 15
13117374 1
16117882 93
1B119035 0
13117655 20
1B119032 8
17117260 0
1B119009 68
14117083 0
1B118069 56
14117121 12
14117322 18
16117725 17
1B118075 66
1B119003 76
17117223 78
1B119020 64
1B119029 0
1B118062 3
1B119017 80
15117805 30
1B119822 46
1B119855 78
1B118739 95
16117947 80
1B119890 8
1A114697 13
1B119023 20
1B119036 13
1B118701 8

Nilai SBP 3KA08 - 2020

NPM Nilai Akhir
17117118              65
10117276                 -
10117402              63
10117549              72
10117962              75
10117211              80
11117223                 -
11117532              54
11117813              12
12117134              73
12117196              20
12117575              71
13117091              70
13117111              81
13117491              36
16117539                 -
13117786              83
13117861              17
13117915                2
13117961                 -
13117964                5
14117019              80
14117020              66
16117775                 -
14117029              67
14117029              15
13117808              67
14117641              76
14117762              71
16117943              78
15117006              61
15117030              71
15117162              60
15117552              65
15117558              90
15117832              86
15117971              71
17117218              80
16117085              59
16117118              93

Nilai SBP 3KA07 - 2020

NPM Nilai Akhir
10117368                  67
10117493                  63
10117602                  77
11117110                     8
11117304                  84
11117327                      -
16117483                  79
16117438                  63
12117078                  23
12117178                      -
12117541                  22
12117564                  12
12117594                  62
12117874                  40
12117934                  78
13117476                  89
13117855                  37
13117885                  22
13117924                  14
13117974                  66
14117089                  64
14117200                  19
14117292                  16
14117431                  72
14117667                  75
14117844                  84
14117876                  69
15117279                  14
15117332                      -
16117917                  19
15117448                  89
15117538                  76
16117856                  18
15117947                  20
16117186                  13
16117400                  82
14117846                  38
14115268                  42
1B119875                  82
1B119876                  78
10115581                  13
16115259                  11

26 Sep 2019

Tugas Sistem Terdistribusi 4ka11 dan 4ka20 tahun 2019

Dalam tugas kelompok ini anda diminta untuk mencari DUA perusahaan nasional atau multinasional, dan membandingkan bagaimana kedua perusahaan tersebut merancang dan mengimplementasikan sistem terdistribusi di perusahaannya.

Laporan yang harus anda siapkan berisi:
1. Profil kedua perusahaan (1-2 halaman)
2. Gambar desain arsitektur sistem terdistribusi dari dua perusahaan tsb (1-2 halaman)
3. Penjelasan dan perbandingan sistem kerja dari sistem terdistribusi di kedua perusahaan tersebut (2 halaman)
4. Fungsi-fungsi yang dijalankan oleh sistem terdistribusi (2 halaman)
5. Keunggulan dan kelebihan dari kedua sistem yang sudah diimplementasikan dibandingkan sistem yang ada sebelumnya (1 halaman)
Keterangan:
1. Satu kelompok terdiri atas 2-3 orang
2. Anda harus menuliskan nama kedua perusahaan yang anda pilih ke dalam komentar dari status ini.
3. Setiap kelompok harus mengajukan nama perusahaan yang berbeda, tidak boleh ada yg sama.
4. Tugas anda wajib dipresentasikan dan dikumpulkan makalahnya pada minggu ke 8 (pertengahan nopember).

Tugas mata kuliah Sistem Berbasis Pengetahuan 3ka07, 3ka08, 3ka20, tahun 2019

Dalam tugas kelompok ini anda diminta untuk membangun sebuah sistem pakar dengan menggunakan bahasa pemrograman Prolog/CLIPS. 

Selain program, anda harus melengkapi dalam bentuk makalah berisi:
1. Nama sistem pakar yang anda buat
2. Fungsi sistem pakar yg anda buat
3. Fitur dan kelebihan sistem pakar yang anda buat
4. Alur kerja / algoritma sistem pakar yang anda buat
5. Ujicoba sistem yang anda buat untuk 10 kasus berbeda

Keterangan:
1. Satu kelompok terdiri atas 2-3 orang
2. Anda harus menuliskan nama sistem pakar yang anda tentukan ke dalam komentar dari status ini.
3. Setiap kelompok harus mengajukan nama sistem pakar yang berbeda, tidak boleh ada yg sama.
4. Tugas anda wajib dipresentasikan dan dikumpulkan makalahnya pada minggu ke 8 (pertengahan nopember).

20 Sep 2019

BERPIKIR VS MENGHAFAL

*BERPIKIR VS MENGHAFAL*

Pada Selasa dua tahun yang lalu ada temanku, seorang guru, bertanya padaku :
“Na... kamu kan mendalami ilmu psikologi, critical thinking dan edukasi, kira-kira gimana cara menyiapkan generasi mendatang?”

Aku bertanya balik :
“Lha apa yang diperlukan oleh anak-anak di masa depan?”
“Menghafal ilmu pengetahuan? Buat apa menghafal? Google sudah ada, Wikipedia juga. Search engine lain juga bermunculan. Kalau mau tahu sesuatu, tinggal comot buku atau tinggal click internet. Ya kan?”

“Iya, apalagi ilmu pengetahuan juga terus berkembang. Banyak temuan baru, sehingga ilmu lama jadi obsolate sudah nggak berlaku lagi”, jawabnya.

“Nah itulah, kan?”

“Jadi bagaimana, masa anak-anak nggak perlu sekolah karena semua informasi dan ilmu sudah ada di internet?” dia menggaruk-garuk kepalanya.

Aku ketawa. Ingat nasibku sendiri.
“Ku kasih tahu ya, aku ini sebenernya kewalahan lho dengan arus informasi seperti sekarang. Rasanya seperti kena banjir bandang.”

“Kenapa seperti kena banjir bandang?”

“Bayangkan saja, setiap hari kita dikepung dengan berita. Aku harus TERUS-TERUSAN menganalisa data dan informasi. Lalu memilah-milahnya : mana yang benar dan mana yang hoax. Belum lagi mencermati mana tulisan yang satir. Beberapa kali aku upload berita dan foto hoax. Padahal sudah kupilih sumbernya. Masih saja kecolongan.”

“Lalu?”

“Ya artinya, masalah generasi mendatang bukanlah KEKURANGAN ILMU, tapi apakah MAMPU BERPIKIR untuk mengolah atau memproses semua informasi yang ada..”

Lalu aku meneruskan,
“Artinya, sekolah-sekolah harus MEROMBAK KURIKULUMNYA. Harus mulai mengajarkan THINKING SKILL ke anak didik untuk memproses banyaknya info dan pengetahuan tersebut.”

Aku lalu bercerita...

Beberapa tahun lalu, seorang ahli pendidikan dari Cambridge datang ke sekolah anakku. Bikin seminar singkat buat para orangtua murid.

Dia cuma mengajukan 3 pertanyaan yang bikin kami mikir jungkir-balik ketika itu :

1. Sambil mengacungkan HPnya ke atas, dia tanya, "Dua puluh tahun lalu adakah yang bisa membayangkan bahwa telepon akan seperti sekarang ini? Bisa memotret, mencatat resep, berkirim surat dan dokumen, berkirim foto? Bisa menampilkan peta dan rute jalanan, bahkan bisa merekam kegiatan fisik Anda sudah berjalan kaki sejauh berapa kilometer dan sudah membakar berapa kalori? Sebuah telepon yang bisa dipakai membuat presentasi dan mengirimkannya ke benua lain?"

Saat itu ruang auditorium bergemuruh dengan suara-suara orangtua saling diskusi.

Dulu telpon cuma bisa buat bicara saja ya? Dan bisa SMSan saja sudah berasa canggih..

Lalu profesor dari Cambridge itu bertanya lagi :

2. “Sekarang, bisakah kita membayangkan, alat ini akan bisa apa saja dalam 10 th atau 20th ke depan?”

Ruang auditorium jadi senyap...
Entah apa yang ada di kepala para orangtua tsb, tapi aku berpikir jangan-jangan, 20 tahun lagi alat telpon sudah bisa jadi moda transport ke dimensi lain.

Sang profesor bertanya lagi :
 “Jika kita bahkan tidak bisa membayangkan 25 th lagi kemajuan akan seperti apa... lalu bagaimana kita sebagai orangtua dan guru, bisa memberikan BEKAL? Bekal yang mana yang harus diberikan?”

Aku merasa seperti ulu hatiku ditonjok dengan keras.

Benar sekali..
Membayangkan masa depan saja, kita tidak mampu, bagaimana bisa memberi bekal ke anak-anak untuk menghadapi masa depan?

Tiba tiba guru itu, berseru,
“ROMBAK ULANG SEMUA MATA PELAJARAN..”

Betul. Sejak itu, sekolah anakku merombak sistem belajarnya:
70% waktu dipakai untuk belajar berpikir.
30%nya untuk mendalami materi.

Sebuah mata pelajaran baru diciptakan, namanya :

1. INQUIRY LEARNING
Di pelajaran ini, anak-anak diajarkan :

—> CARA BERTANYA. Kenapa? Karena, dengan skill bertanya yang baik, seseorang akan mendapatkan banyak jawaban.
Ingat Najwa Shihab? Dia tidak akan banyak mendapatkan informasi kalau nggak pintar bertanya.

—> MENCARI JAWABAN SECARA MANDIRI. Berapa banyak orang yang punya gadget? Hampir semua orang punya. Mulai dari anak SD, ibu rumah tangga, tukang jual bakso, sampai direktur. Tapi berapa banyak yang mampu mencari jawaban lewat internet lalu memilah-milah mana informasi yang valid dan yang hoax?

—> THINKING SKILLS (kemampuan berpikir kritis dan konstruktif)

2.Pelajaran Matematika juga dirombak. Memakai metode baru dimana rumus tidak lagi harus baku, tapi guru memberikan kebebasan bagi murid untuk mencari jawaban dengan aneka cara, proses, dan jalan. Bahkan, guru matematika melarangku memasukkan anakku ke les matematika yang bersifat drilling. Kenapa..? Karena yang dituju saat ini adalah : terbangunnya LOGIKA MATEMATIKA pada anak didik. Bukan cepet-cepetan memberikan jawaban, hasil dari drilling. Well, akhirnya terbukti sih. Anakku pernah jadi juara dua lomba matematika seAsia Tenggara, padahal gak pernah ikut les apa-apa.

Lalu anak didik mulai diajak melakukan :

3. Experimental Science.

4. Riset dan presentasi.

5. Membaca 1 buku setiap hari.

Di sekolah anakku, kewajiban membaca ini 'dipaksakan' dari kelas 1 SD sampai kelas 4 SD. Tiap hari harus mengisi reading log/daftar bacaan yg sudah selesai dibaca, dan ortu harus ikut baca dan kasih tanda tangan.

Anak harus ditanya :
- apa yg kamu tangkap dari bacaan ini?

Besoknya anak disuruh cerita di depan kelas, tentang isi bacaannya.
Guru-guru dituntut untuk menyemaikan  thinking skills, salah satunya dengan cara membiasakan diskusi 2 arah untuk membangun keterampilan berpikir.

Topik geografi dan sejarah, tetap diajarkan, tapi HANYA SEBAGAI MATERI BAHASAN (alias dipakai sebagai bahan diskusi) untuk mengembangkan KETERAMPILAN BERPIKIR yang tertuang di nomor 1, 3, dan 4 di atas.

Topik politik, agama, dinamika sosial juga dipakai (dengan cacatan : bukan sebagai bahan hafalan, tetapi latihan berpikir kritis dan mengembangkan nurani).

Praktik ini berlaku untuk SD & SMP.
Thinking skills harus digarap dengan sangat fokus di masa-masa ini.

Setelah ‘processor’ di kepalanya jadi, anak-anak akan siap memproses apa saja. Memikirkan dan merenungkan apa saja.

Mereka akan siap menghadapi zaman, yang kita (para guru dan ortu) tidak mampu membayangkan....

Dulu, tahun 1970an, kakekku pernah berpesan :
“Banyaklah belajar, jadilah GUDANG ilmu.”

Tapi, di tahun 2019 ini aku akan berpesan ke generasi muda:
“Banyaklah berpikir, jadilah PABRIK ilmu. Menciptakan ilmu dan temuan baru. Bukan cuma jadi gudang penyimpan ilmu. Urusan itu biar dilakukan oleh Google....”